Tidak semua panggilan lahir dari kehidupan yang serba sempurna. Chistopher Stevanus Niku atau yang lebih akrab disapa sebagai Steve menjadi salah satu bukti bahwa Tuhan mampu berkarya melalui setiap kisah hidup, bahkan yang penuh keterbatasan sekalipun.
Steve adalah salah seorang seminaris yang saat ini menempuh pendidikan tahun kedua pada Seminari Menengah Santo Vincentius A Paulo di Garum. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Orang tuanya tidak menikah sehingga ia tidak pernah mengenal sosok ayahnya. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh paman dan bibinya. Sebelum Steve memasuki Seminari Menengah Garum, ibunya telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Meski demikian, kasih Tuhan hadir melalui orang-orang yang selalu mendampinginya.
Benih panggilan Steve bertumbuh dari lingkungan keluarga. Ibunya pernah bekerja sebagai pegawai RTP di paroki, sementara nenek dan bibinnya bekerja pada prelatur pribadi Opus Dei. Melalui kegiatan katekese lingkungan yang didampingi Opus Dei, Steve mulai mengenal kehidupan para iman Katolik. Hal ini membuat hatinya tergerak untuk semakin dekat dengan Tuhan dan aktif dalam kegiatan gereja.
Keaktifan di paroki menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilannya. Dari pelayanan awal sebagai anggota koor, sedikit demi sedikit Steve berusaha untuk dapat melayani sesuai kemampuannya, mulai dari pemandu umat, misdinar, hingga pemazmur. Setiap pelayanan menjadi pengalaman berharga yang semakin menumbuhkan kerinduannya untuk mempersembahkan hidup bagi Tuhan.
Namun, perjalanan menemukan panggilan bukan tanpa pergulatan. Steve pernah menjalani masa berpacaran. Di tengah relasi tersebut, ia sungguh-sungguh membawa kebimbangannya kepada Tuhan dan memohon petunjuk agar diberi kejelasan mengenai jalan hidup yang harus dipilih. Dari proses doa itulah ia semakin yakin bahwa Tuhan memanggilnya untuk melayani sebagai imam.
Steve bercita-cita untuk mempersembahkan hidupnya sebagai imam diosesan (imam projo). Inspirasi untuk mempersembahkan hidup sebagai imam diosesan berawal saat kunjungannya ke Ngawi bersama Orang Muda Katolik seusai kegiatan visualisasi Jalan Salib. Saat itu ia mempelajari bahwa paroki yang tersebut hanya dilayani oleh dua orang imam yang juga harus melayani 10 stasi. Pengalaman tersebut membuka matanya akan besarnya kebutuhan Gereja akan imam yang hadir, mengenal umatnya, dan berjalan bersama mereka. Sejak saat itu, ia mantap bercita-cita untuk mempersembahkan hidupnya sebagai imam projo.
Steve juga banyak terinspirasi oleh kisah pertobatan Santo Paulus. Santo Paulus yang dahulu dikenal sebagai penganiaya umat Kristiani justru dipilih Tuhan menjadi rasul yang mewartakan Injil ke berbagai bangsa. Bagi Steve, kisah pertobatan Santo Paulus mengajarkan bahwa Tuhan tidak melihat masa lalu seseorang, melainkan hati yang bersedia dibentuk dan dipakai-Nya. Latar belakang yang sederhana ataupun penuh luka bukanlah penghalang bagi karya Tuhan.
Kepada kaum muda yang sedang bergumul menemukan panggilan hidup, Steve memberikan pesan sederhana namun mendalam.
"JANGAN TAKUT AKAN PANGGILAN TUHAN. JANGAN TAKUT PULA TERHADAP RISIKO YANG MENYERTAINYA. TUHAN TIDAK PERNAH SALAH MEMILIH ORANG."
Ia juga mengingatkan bahwa Seminari Menengah bukanlah tempat yang langsung mengharuskan seseorang menjadi imam. Seminari adalah tempat pembinaan untuk mengenal diri, mendewasakan kepribadian, memperdalam relasi dengan Tuhan, serta belajar menjadi pemimpin yang mampu melayani. Di sana, setiap seminaris diberi ruang untuk semakin memahami apakah Tuhan sungguh memanggilnya menjadi imam.
Bagi mereka yang masih merasa bimbang, Steve mengajak untuk semakin dekat dengan Tuhan melalui Ekaristi, adorasi, doa pribadi, dan keterlibatan dalam kehidupan Gereja. Jangan ragu untuk berdialog dengan romo, suster, maupun para pendamping rohani. Dalam keheningan doa dan kebersamaan dengan komunitas, Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik bagi setiap orang.
Pada akhirnya, kisah Steve mengingatkan kita bahwa panggilan bukanlah tentang memiliki masa lalu yang sempurna, melainkan tentang keberanian menjawab sapaan Tuhan. Ketika hati terbuka untuk dibentuk, Tuhan mampu mengubah keterbatasan menjadi berkat dan menjadikan setiap orang alat kasih-Nya bagi sesama.