Panggilan menjadi imam, biarawan, atau biarawati bukan hanya urusan mereka yang merasa terpanggil. Panggilan adalah anugerah bagi seluruh Gereja. Karena itu, seluruh umat beriman memiliki peran penting untuk mendoakan mereka yang sedang dipanggil sekaligus mendoakan mereka yang telah menjawab panggilan itu. Sebuah kenangan indah akan doa untuk panggilan datang dari R.D. Antonius Yanuardi Hendro Wibowo yang akrab disapa umat dengan Romo Yanuar.
Yesus sendiri bersabda, "Mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:2) ungkap Romo Yanuar mengawali sharing imannya. Doa menjadi kekuatan utama yang menopang lahirnya panggilan-panggilan baru dan menjaga kesetiaan mereka yang telah ditahbiskan.
Romo Yanuar berasal dari Ngawi dimana umat paroki setempat yang terdiri dari keluarga terpanggil dan simpatisan selama puluhan tahun setia berkumpul setiap Jumat kedua untuk berdoa secara khusus memohon rahmat panggilan. Romo Yanuar-pun pernah menjadi bagian dari kelompok umat tersebut.
Doa mereka sederhana, namun penuh iman dalam permohonan agar Tuhan berkenan untuk membangkitkan panggilan 100 imam dari paroki tersebut. Doa yang terus dipanjatkan dengan tekun selama bertahun-tahun tersebut menjadi wujud keyakinan bahwa Tuhan selalu mendengarkan umat-Nya. Sedikit demi sedikit, buahnya mulai tampak melalui semakin banyaknya putra-putra paroki yang berani menjawab panggilan Tuhan.
Romo Yanuar sendiri merupakan buah dari doa tersebut. Romo Yanuar. yang mengagumi Santo Yohanes Maria Vianney sebagai teladan bagi setiap imam diosesan karena pengorbanan dan cinta kasihnya yang mengingatkan bahwa inti panggilan imamat bukanlah kehormatan, melainkan pemberian diri secara total bagi Tuhan dan Gereja, adalah imam ke 30 yang berasal dari Paroki tersebut. Adapun saat ini jumlah imam yang berasal dari paroki tersebut menuju imam yang ke 40.
Selain mendoakan panggilan, kelompok umat tersebut juga mendoakan semua imam, suster dan calon dari paroki tersebut agar setia dalam pangilannya. "Lukas Soewondo, CM - Kuatkan Pangilannya", seperti litani umat mendoakan nama imam, suster dan calon-calon dari paroki, kenang Romo Yanuar akan doa yang pernah ia panjatkan sebagai bagian dari kelompok umat tersebut.
Kesaksian Romo Yanuar mengingatkan kita bahwa panggilan tidak tumbuh sendirian. Di balik setiap imam, selalu ada keluarga yang mendukung, komunitas yang menyemangati, dan umat yang tanpa lelah mendoakan. Sebaliknya, para imam, seminaris, serta para religius juga terus mendoakan umat yang mereka layani agar semakin bertumbuh dalam iman dan mengalami kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu marilah kita membangun budaya saling mendoakan. Doakanlah anak-anak dan kaum muda agar berani mendengarkan suara Tuhan. Doakanlah para seminaris agar setia dalam masa pembinaan. Doakanlah para imam agar tetap bersemangat dan kudus dalam pelayanannya. Dan jangan lupa, mintalah mereka juga mendoakan kita, agar setiap orang mampu setia pada panggilannya masing-masing pesan Romo Yanuar.
Ketika umat mendoakan para gembalanya dan para gembala mendoakan umatnya, Gereja akan terus bertumbuh sebagai keluarga Allah yang hidup, saling menguatkan, dan bersama-sama menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia.
Bagi mereka yang dipanggil Tuhan, Romo Yanuar menyampaikan bahwa sangatlah manusiawi apabila seseorang memiliki perasaan tidak layak atau tidak mampu,. Namun jangan jadikan perasaan tersebut sebagai suatu penghalang untuk menyambut
panggilan. Seperti sebuah kalimat yang pernah dibaca beliau pada belakang sebuah truk di Madiun:
"TUHAN TIDAK MEMANGGIL ORANG YANG MAMPU, TETAPI TUHAN MEMAMPUKAN ORANG YANG DIPANGGIL."
Yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk membuka hati menjawab "ya" kepada Tuhan dan membuka diri terhadap proses pembinaan. Jangan memutuskan sendiri.
Temuilah seorang imam atau pembimbing rohani yang untuk pendampingan dan biarkan Tuhan yang membentuk dirimu melalui setiap proses. Kemampuan dapat diperoleh asal terbuka pesan Romo Yanuar.