Menjadi imam bukanlah tujuan yang dicapai dalam sekejap. Di balik tahbisan imamat terdapat perjalanan panjang yang disebut formatio, yaitu proses pembentukan agar seorang calon imam semakin menyerupai Kristus Sang Gembala, yang bertindak atas nama Kristus dalam pelayanan kepada umat.
Proses formatio imam secara formal bertempat di Seminari. Seminarium sendiri berasal dari kata Latin semen yang berarti "benih". Seperti benih yang ditanam agar bertumbuh menjadi pohon yang kuat, demikian pula setiap calon imam memasuki seminari untuk dibentuk secara utuh.
Para calon imam datang dengan latar belakang, kemampuan, kelemahan yang berbeda dan tidak ada satupun yang sempurna. Melalui proses formatio, Gereja (Formator di Seminari) membantu pembentukan setiap calon imam untuk dapat semakin mendekati pribadi Yesus Kristus.
Formatio menjadi sangat penting sehubungan dengan pelayanan sakramental imam yang menyentuh kehidupan iman umat. Oleh karena itu, Gereja (Seminari) mempersiapkan para imam secara menyeluruh agar mampu melayani dengan matang dan bertanggung jawab.
Pembentukan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga mencakup empat dimensi utama:
- Dimensi kepribadian, yaitu pembentukan karakter, kedewasaan emosi, kemampuan membangun relasi, serta penyembuhan luka-luka batin yang mungkin dibawa calon imam sejak masa lalu.
- Dimensi rohani, yakni membangun relasi yang mendalam calon imam dengan Tuhan melalui doa, Ekaristi, Kitab Suci, dan kehidupan spiritual.
- Dimensi intelektual, dengan calon imam mempelajari filsafat, teologi, dan berbagai ilmu yang mendukung pelayanan Gereja.
- Dimensi pastoral, yaitu calon imam belajar hadir di tengah umat, memahami kebutuhan mereka, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan melayani umat.
Seluruh proses tersebut diatas bertujuan mempersiapkan imam yang mampu melayani umat secara utuh.
Namun demikian, proses formatio sesungguhnya dimulai jauh sebelum seseorang memasuki seminari, yakni sejak seorang anak tumbuh besar dalam keluarga. Keluarga adalah "Gereja Kecil" tempat seorang anak belajar berdoa, mengasihi, menghormati sesama, bertanggung jawab, dan melayani. Fondasi kepribadian yang sehat dari keluarga akan memudahkan proses pembentukan calon imam di seminari. Setelah fondasi kepbribadian yang sehat tersebut terbentuk, pembinaan intelektual, rohani, dan pastoral calon imam dapat berkembang dengan lebih baik. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan penting sebagai tempat pembentukan pertama.
PERJALANAN MENUJU TAHBISAN IMAM DIOSESAN
Bagi calon imam diosesan (imam projo), terdapat dua jalur awal perjalanan menuju tahbisan imam diosesan. Mereka yang berasal dari Seminari Menengah menjalani pendidikan selama tiga tahun SMA ditambah satu tahun pendalaman atau kelas persiapan sebelum memutuskan melanjutkan ke Seminari Tinggi.
Sementara itu, mereka yang berasal dari luar Seminari Menengah terlebih dahulu mengikuti Tahun Orientasi Rohani (TOR) selama dua tahun, sedangkan lulusan Seminari Menengah umumnya menjalani TOR selama satu tahun. Masa TOR ini difokuskan pada pembinaan hidup rohani, kepribadian, dan pengenalan awal terhadap kehidupan pastoral.
Selanjutnya calon imam memasuki Seminari Tinggi selama enam tahun. Pada tahap ini mereka mendalami filsafat dan teologi sesuai ketentuan Gereja universal, sekaligus memperoleh pendidikan akademik yang mendukung pelayanan pastoral. Sesudah itu mereka menjalani Tahun Pastoral dimana mereka diutus untuk tinggal dan melayani di paroki agar mengenal kehidupan umat secara nyata. Tahapan berikutnya adalah menerima Tahbisan Diakon, suatu ritus religius dan sakramen Imamat dimana calon imam menjadia diakon. Bersumber dari kata Yunani "diakonia" yang berarti pelayanan, tahbisan diakon memberdayakan seseorang untuk membantu imam dan uskup dalam pelayanan sabda, liturgi dan karitas, sebelum akhirnya, setelah dinilai siap, menerima Tahbisan Imamat.
TANTANGAN FORMATIO DI ERA DIGITAL
Dari waktu ke waktu proses formatio berjalan sesuai dengan perubahan jaman. Seiring perubahan waktu, tantangan yang dihadapi proses formatio juga mengalami perubahan. Salah satu tantangan formatio terbesar pada saat ini adalah perbedaan karakter antar generasi. Banyak calon imam berasal dari generasi digital (digital native) yang sejak kecil akrab dengan dunia maya. Oleh karena itu, para formator perlu memahami dunia mereka agar mampu mendampingi secara efektif. Di sisi lain, para seminaris juga diajak belajar meninggalkan kenyamanan komunikasi virtual untuk membangun relasi nyata. Hidup berkomunitas yang dijalani seminarispun menjadi "laboratorium" bagi para seminaris untuk belajar mendengarkan, bekerja sama, menyelesaikan konflik, dan berkomunikasi secara langsung dengan sesama maupun umat.
KEMAMPUAN INTELEKTUAL MEMANG PENTING, TETAPI KEMAMPUAN MEMBANGUN RELASI MANUSIAWI SAMA PENTINGNYA DALAM PELAYANAN SEORANG IMAM.
- R.D. Antonius Yanuardi Hendro Wibowo,
Ketua Centrum Ivan Merz.
PERAN UMAT DALAM FORMATIO IMAM
Proses formatio panggilan imam bukanlah tanggung jawab seminari saja, melainkan tanggung jawab seluruh Gereja dan umat memiliki peranan penting dalam menyukseskan proses formatio
Dukungan pertama yang dapat diberikan oleh umat adalah doa. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang mengajak kita berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian agar mengirimkan pekerja-pekerja bagi tuaian-Nya (Lukas 10:2), maka hendaklah kita selalu mendoakan agar panggilan tumbuh sumbur di Paroki kita pada khususnya dan Keuskupan Surabaya pada umumnya. Selain itu hendaknya kita dapat mendoakan mereka yang saat ini sedang beproses dalan menyambut panggilan dan keluarga mereka.
Dukungan berikutnya dari umat datang dari pengajaran dalan keluarga sebagai seminari pertama. Orang tua dapat memperkenalkan berbagai bentuk panggilan hidup sejak dini serta mendampingi dan memberikan ruang bagi anak untuk mendengarkan suara Tuhan tanpa rasa takut.
Selain itu, umat juga dapat memberikan dukungan materi. Pendidikan pada Seminari Menengah masih membutuhkan kontribusi biaya dari keluarga maupun para dermawan. Setelah memasuki Tahap Orientasi Rohani, umumnya seluruh biaya pembinaan ditanggung oleh keuskupan sehingga calon imam dapat fokus menjalani proses formatio. Oleh karena itu kontribusi materi dapat membantu untuk pembiayaan/peneyedia infrastruktur yang dibutuhkan dalam proses formatio para seminaris