Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, masih ada sosok-sosok sederhana yang diam-diam menjadi terang bagi banyak orang. Salah satunya adalah Maria Goretti Widowati Retno Utami, atau yang akrab dipanggil Bu Etty, seorang aktivis Gereja di Paroki Hati Kudus Yesus/Katedral Surabaya.

Bu Etty membagikan kesaksian hidup, pelayanan, dan pengalaman spiritual yang membentuk perjalanan imannya selama puluhan tahun yang menjadi pengingat bahwa Tuhan bekerja melalui orang-orang sederhana yang bersedia menjawab “Iya”.

AWAL MULA SEMANGAT MELAYANI
Saat ini Bu Etty melayani sebagai anggota Badan Gereja Katolik Paroki (BGKP) Hati Kudus Yesus/Katedral Surabaya. Sebelumnya beliau pernah melayani sebagai Ketua Bidang Sumber Dewan Pastoral Paroki Hati Kudus Yesus/Katedral Surabaya yang menempa semangat pelayanannya.

Sebagai perempuan pertama yang dipercaya untuk memimpin bidang tersebut, perjalanan pelayanannya tidak dimulai dengan rasa percaya diri yang besar. Sebaliknya saat pertama kali ditunjuk, Bu Etty justru merasa tidak mengerti apa-apa tentang banyak hal yang harus ditanganinya

Tetapi ada satu prinsip yang selalu dipegangnya sejak kecil, sebuah nasihat dari mendiang ibunya:

“Kalau kamu dipilih untuk melayani, kamu harus bilang iya.”


Nasihat sederhana tersebut menjadi fondasi hidup beliau. Bu Etty percaya saat seseorang menjawab “iya” kepada Tuhan, maka Tuhan sendirilah yang akan melengkapi segala kekurangan dan ketidakmampuan orang tersebut.

BELAJAR MELAYANI DENGAN RENDAH HATI
Sebelum menjadi Ketua Bidang Sumber, Bu Etty telah aktif melayani sebagai lektor dan pelayan liturgi sejak tahun 1976. Namun pelayanan beliau dalam melayani tidak selalu berjalan mudah. Saat pertama kali dipercaya memimpin seksi liturgi, banyak yang meragukan kemampuannya. Namun beliau memilih bertahan dan tetap setia dalam pelayanannya. Hal ini karena beliau percaya bahwa yang dilayaninya bukan manusia, melainkan Tuhan sendiri.

“Yang saya layani ini bukan Romo, bukan si A atau si B, tapi Tuhan.”


Keyakinan tersebut yang membuatnya mampu bertahan dan setia dalam pelayanan meskipun melewati berbagai kritik, penolakan, dan tekanan.

PENGALAMAN SPIRITUAL DI DALAM BIARA
Salah satu pengalaman yang paling menyentuh dari perjalanan hidup Bu Etty adalah kehidupan membiara. Bu Etty tumbuh dalam keluarga yang sangat beriman. Mendiang ibunya sering mendongeng tentang Yesus dan kisah para kudus. Dari situlah muncul kerinduan untuk menjadi biarawati dan beliau sempat masuk biara pada usia 37 tahun.

Namun setelah beberapa bulan hidup membiara, Bu Etty merasa tidak tenang. Tantangan terbesar yang dirasakannya adalah untuk menjadi cukup rendah hati karena sebelumnya sudah lama bekerja dan memimpin organisasi. Di tengah kebingungan itu, suatu siang saat tugas jaga adorasi sendirian di kapel, beliau mendengar suara pria yang sangat jelas berkata:

“Kamu lebih dibutuhkan di luar daripada di sini.”


Peristiwa itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Beliau akhirnya keluar dari biara dan menyadari bahwa panggilannya bukan menjadi biarawati, melainkan melayani Tuhan di tengah dunia.

JANGAN TAKUT UNTUK MELAYANI
Bagi Bu Etty, pelayanan bukan soal kenyamanan tetapi kesediaan untuk hadir ketika dibutuhkan. Bu Etty melihat banyak generasi muda yang sebenarnya memiliki talenta, tetapi takut melayani karena merasa tidak mampu, malu,

atau minder. Padahal menurut beliau, setiap pelayanan tidak pernah sia-sia. Melalui pelayanan, seseorang dapat bertumbuh dalam iman, belajar banyak hal, menemukan teman, bahkan menemukan panggilan hidupnya. Oleh karena itu Bu Etty menghimbau generasi muda agar tidak menyia-nyiakan setiap talenta yang diberikan Tuhan.

“Jangan takut, percaya saja.” (Markus 5:36)


Ayat tersebut menjadi sumber kekuatan Bu Etty, kekuatan ketika beliau mengalami masa-masa paling berat dalam hidupnya. Saat merasa takut, sendirian, dan berada di titik terendah, beliau terus mengulang kalimat tersebut dalam hatinya. Dan dari pengalaman itulah beliau belajar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang percaya kepada-Nya.

Kisah Bu Etty menunjukkan bahwa menjadi pelayan Tuhan tidak harus selalu tampil besar atau sempurna. Kadang Tuhan hanya mencari satu hal sederhana: kesediaan untuk berkata “iya”. Melalui ketulusan, keteguhan, dan iman yang sederhana, Bu Etty menjadi contoh bahwa pelayanan bukan beban, melainkan jalan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Dan seperti pesan yang terus ia pegang sampai hari ini
“Jangan takut. Percaya saja.”