Menjadi biarawati merupakan sebuah ziarah iman, sebuah proses menyesuaikan diri dengan rencana Allah yang di dalamnya terdapat peneguhan-peneguhan sederhana yang menjadi tanda nyata penyertaan Tuhan. Demikianlah kisah perjalanan panggilan Sr. Teresa Lina Sriwahyuni, SSpS, seorang religius yang menemukan jejak penyertaan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.

Terlahir dalam keluarga beragama Islam, beliau tidak mengenal Gereja Katolik maupun kehidupan membiara. Namun, benih panggilan mulai tumbuh secara tak terduga ketika beliau masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah drama Natal yang beliau saksikan meninggalkan kesan mendalam tentang Allah yang menjadi manusia dan tinggal di tengah umat-Nya. Sejak saat itu, gambaran tentang Allah yang dekat dan hadir dalam kehidupan manusia terus hidup di dalam hatinya.

Memasuki masa remaja, ketertarikan itu semakin berkembang saat beliau membaca kisah Dolores Hart, seorang aktris Hollywood yang memilih meninggalkan gemerlap dunia hiburan untuk menjadi seorang biarawati. Keputusan Dolores Hart yang tampak tidak masuk akal di mata dunia justru membangkitkan pertanyaan mendalam di dalam hati beliau tentang arti hidup yang sepenuhnya dipersembahkan bagi Tuhan. Sejak saat itu, pencarian beliau akan panggilan hidup semakin bertumbuh.

Perjalanan iman kemudian membawa beliau menjadi katekumen saat duduk di kelas dua SMA dan menerima Sakramen Baptis setahun kemudian. Langkah demi langkah, Tuhan menuntun beliau hingga akhirnya bergabung dengan Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus/Servae Spiritus Sancti (SSpS), sebuah kongregasi internasional yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen bersama tarekat SVD dan SSpS-AP

Dalam menapaki perjalanan panggilan sebagai religius, Sr. Teresa semakin menyadari bahwa Allah telah menenun kisah hidupnya jauh sebelum ia menyadarinya. Ketertarikannya sejak kecil pada misteri Allah yang menjadi manusia, ternyata sejalan dengan spiritualitas Santo Arnoldus yakni Sabda yang menjadi manusia (Prolog Injil Yohanes 1: 1-18).

Doa sederhana yang sering beliau panjatkan saat masa katekumen, “Datanglah Roh Kudus,” juga menemukan makna yang lebih dalam saat beliau dipanggil untuk hidup dalam tarekat Misi Abdi Roh Kudus. Dalam doa harian: doa pagi, siang, dan malam, kongregasi SSpS selalu mendoakan doa mohon kedatangan Roh Kudus dan mohon karunia Roh Kudus. Padahal saat memilih bergabung dengan kongregasi SSpS, Sr Teresa belum begitu memahami tarekat SSpS. Pengalaman Sr. Teresa saat menjalani perutusan, dimana tempat-tempat perutusan dan jenis kerasulan yang dijalaninya ternyata sejalan dengan kerinduan serta gambaran yang dimiliki sejak kecil, menjadi peneguhan baginya bahwa jalan panggilan yang ditempuh bukanlah suatu kebetulan, melainkan bagian dari karya Allah yang perlahan membimbing dan menyempurnakan kehidupannya.

Bagi Sr. Teresa, pengalaman beliau mengajarkan bahwa panggilan tidak selalu ditandai dengan sesuatu yang spektakuler. Sering kali Tuhan hadir melalui peristiwa kecil, perjumpaan sederhana, dan pengalaman yang membuat hati merasa “klik” dengan-Nya. Dari refleksi terhadap pengalaman beliau, Sr. Teresa meyakini bahwa pada akhirnya panggilan khusus yang beliau jalani adalah sebuah jalan yang disediakan Allah untuk memperdalam imannya akan Allah. Allah yang senantiasa menyertai: Allah yang menyejarah, yang tidak pernah meninggalkan manusia, melainkan terus hadir dan terlibat dalam perjalanan hidup manusia.

Keyakinan akan penyertaan Allah inilah yang menjadi sumber kekuatan beliau dalam setiap karya kerasulan. Sebagai seorang pendidik dan religius, beliau berharap dan berusaha agar dapat menjadi tanda kehadiran Tuhan bagi sesama, terutama bagi mereka yang sedang mencari harapan di tengah perjalanan hidup. Sebab pada akhirnya, inti dari setiap panggilan adalah menjadi saksi bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Ia selalu hadir, berjalan bersama, dan terus berkarya dalam setiap kisah kehidupan.

Allah Emanuel—Allah yang beserta kita—tetap menyertai, memanggil, dan menuntun setiap orang menuju kepenuhan rencana kasih-Nya.