Semua itu berawal sederhana, saat saya menjadi Putra Altar. Di saat itu, tanpa saya sadari, hati saya mulai digerakkan. Bukan oleh sesuatu yang besar, tetapi oleh hal-hal kecil yang diam-diam menyentuh: doa, keheningan, dan terutama sosok seorang Imam sepuh.
Saya melihat beliau yang dalam kesederhanaanya dengan penuh semangat melayani umat, meskipun melelahkan bahkan terkadang hingga beliau tertidur di kursi karena kehabisan tenaga setelah melayani. Namun justru dari situ saya melihat cinta yang nyata. Cinta yang tidak banyak bicara, tetapi memberi diri sepenuhnya dan dari situlah muncul sebuah pertanyaan dalam hati saya: “Apakah mungkin Tuhan juga memanggil saya untuk hidup seperti itu?”. Hidup untuk menjadi saluran kasihnya dalaam melayani umat yang jumlahnya banyak tetapi tidak semua dapat terlayani sehubungan dengan jumlah Imam yang sedikit.
Di sisi lain, setiap kali saya menyaksikan Ekaristi, terutama saat konsekrasi dimana Imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus, ada rasa yang tidak dapat saya jelaskan. Ada misteri. Ada keindahan. Dan diam-diam, hati saya ingin semakin dekat dengan misteri itu.
Namun jalan ini tidaklah mudah.
Pada awalnya ada penolakan dari orang tua. Ada keraguan dari keluarga. Dan yang terberat adalah adanya keraguan dari dalam diri sendiri: “Apakah saya layak?”, “Apakah saya mampu?. Saya takut tidak sanggup menjalani semuanya.
Dalam kerapuhan itu, saya tidak punya banyak jawaban. Saya hanya punya satu: doa. Saya belajar datang kepada Tuhan lagi dan lagi. Saya belajar untuk hening meskipun hati saya bergejolak.
Saya belajar untuk pasrah kepada kehendakNya meskipun saya belum mengerti. Dan perlahan-lahan, dalam keheningan itu, Tuhan bekerja. Bukan dengan cara yang spektakuler, tetapi lewat hal yang sederhana: hati yang mulai dikuatkan hingga pada akhirnya orang tua yang membuka hati dan memberi izin serta keluarga yang mendukung.
Di titik itulah saya sadar bahwa panggilan ini bukan tentang kemampuan saya, tetapi tentang kesetiaan Tuhan.
Maka saya menjawab: “Ya, Tuhan.” Bukan karena saya siap, akan tetapi karena saya percaya pada rencana dan penyelenggaraanMu.
Untuk kalian yang saat ini sedang bergumul dengan panggilan, mungkin sama seperti saya kalian juga merasa ragu, takut, atau tidak layak dan pantas. Tetapi ingatlah ini: Tuhan yang memanggil, Dia juga yang memampukan. Tuhan tidak mencari yang sempurna tetapi Dia mencari hati yang mau terbuka. Oleh karena itu, jangan takut untuk berkata “Ya Tuhan” meskipun itu pelan, meskipun itu gemetar. Karena sering kali Tuhan berbicara bukan dalam keramaian, tetapi dalam keheningan hati.
Berkah Dalem,
Surabaya, 25 April 2026
R.P. Mingdry Hanafi Tjipto, OP
Ketua Komisi Animasi Panggilan
Kesaksian Hidup Panggilan Khusus
KESAKSIAN HIDUP PANGGILAN
Ada masa di mana saya tidak mencari Tuhan, tetapi justru Tuhan yang lebih dahulu mencari saya.