Dengan penuh sukacita dan syukur kepada Tuhan, saya menyambut terbitnya Buletin Animasi Panggilan edisi perdana ini sebagai buah karya kerasulan yang lahir dari kerinduan Gereja di Keuskupan Surabaya untuk semakin setia pada amanat Kristus: “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya.” (Mat 9:37). Kehadiran buletin ini adalah tanda nyata bahwa Gereja kita masih percaya, masih berharap, dan masih berani mewartakan bahwa Tuhan terus memanggil.
Di tengah arus zaman yang sering kali mengaburkan makna panggilan sejati, hakekat animasi panggilan bukanlah sekadar kegiatan rekrutmen atau promosi statistik, melainkan sebuah proses pendampingan yang menyentuh hati dan membuka mata batin. Tujuannya di masa sekarang adalah membantu umat mengenali bahwa panggilan bukan milik segelintir orang terpilih, melainkan hakikat dasar setiap orang yang dibaptis. Dalam konteks budaya instan, fragmentasi relasi, dan kerapuhan makna identitas, animasi panggilan harus menjadi ruang dialog, dan keterbukaan terhadap rencana Allah yang selalu segar, personal, dan relevan. Ia mengajak kita beralih dari logika “mencari calon” menjadi budaya “menyambut panggilan” yang sedang bertunas di tengah keluarga, sekolah, paroki, dan komunitas muda.
Buletin ini hadir sebagai sarana promosi panggilan yang tidak hanya menginformasikan, tetapi juga menginspirasi. Melalui kesaksian hidup para bruder, suster, frater, dan imam yang setia pada karisma tarekat masing-masing, spiritualitas hidup bakti menjadi nyata, mudah dijangkau, dan penuh daya tarik. Kesaksian mereka adalah cerminan konkret bagaimana Injil dapat dihayati secara radikal, penuh sukacita, dan berbuah bagi sesama. Di sinilah kekuatan media ini: ia tidak hanya menceritakan panggilan, tetapi menunjukkan panggilan yang sedang hidup.
Namun, animasi panggilan tidak akan tumbuh subur jika hanya menjadi tanggung jawab panitia atau pengurus tarekat. Saya mengajak seluruh umat beriman, kaum muda, orang tua, pendidik, katekis, dan para pelayan pastoral untuk terlibat aktif dalam menganimasi panggilan kristiani. Setiap keluarga yang hidup dalam doa, kesetiaan, dan keterbukaan; setiap komunitas yang menjadi tempat penyambutan dan pendewasaan iman; setiap paroki yang berani mewartakan Injil tanpa takut kehilangan, adalah ladang subur bagi tumbuhnya panggilan baru. Animasi panggilan adalah misi bersama seluruh Tubuh Kristus.
Saya berharap dan mendoakan agar buletin ini terus terbit secara berkala, semakin berkualitas dalam isi dan desain, serta menjangkau hati banyak orang di berbagai lapisan masyarakat. Semoga Roh Kudus senantiasa memimpin redaksi, kontributor, desainer, dan semua pihak yang terlibat, agar setiap halaman yang terbit tidak hanya dibaca, tetapi juga diresapi, direnungkan, dan dihidupi. Keberlanjutan buletin ini adalah panggilan untuk tetap setia pada misi Gereja: mewartakan bahwa Tuhan masih memanggil, dan Gereja selalu siap menyapa jawaban itu.
Dengan berkat apostolik, saya menyerahkan karya ini kepada perlindung Maria, Bunda Para Panggilan, dan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, pelindung misi panggilan. Semoga buletin ini menjadi benih yang menghasilkan buah berlipat ganda bagi Gereja di Keuskupan Surabaya dan di mana saja halaman-halamannya tersebar.
Tuhan memberkati kita sekalian.
Surabaya, 18 April 2026
+ Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo Uskup Surabaya
Dalam konteks budaya instan, fragmentasi relasi, dan kerapuhan makna identitas, animasi panggilan harus menjadi ruang dialog, dan keterbukaan terhadap rencana Allah yang selalu segar, personal, dan relevan. Ia mengajak kita beralih dari logika “mencari calon” menjadi budaya “menyambut panggilan” yang sedang bertunas di tengah keluarga, sekolah, paroki, dan komunitas muda.